Praktik Manajemen di Lingkungan
Global
Oleh: Misbahul Munir[1]
A. Memahami
Perspektif Global
Di era globalisasi, tidak sedikit
orang yang sudah mampu menggunakan lebih dari satu atau dua bahasa yang ada di
dunia. Menguasai bahasa Inggris yang menjadi salah satu bahasa yang di pakai
secara Internasional merupakan suatu tuntutan bagi pelaku bisnis global.
Bahkan, kebanyakan penduduk di negara maju seperti Singapura, bahasa Inggris
digunakan sebagai bahasa sehari-hari setelah bahasa ibu di Negara mereka
. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan berbahasa Internasional merupakan suatu hal yang sangat penting bagi para pelaku bisnis secara global. Para pelaku bisnis yang mahir menggunakan bahasa Internasional akan lebih bisa mengetahui perkembangan bisnis secara global jika dibandingkan dengan para pelaku bisnis yang tidak bisa menggunakan bahasa Internasioanl. Sebab dalam persaingan yang bisnis secara global, bahasa yang digunakan bukan hanya bahasa ibu tempat dimana kita berada. Dalam persaingan bisnis secara internasional tentu juga akan menggunakan bahasa Internasional. Jika kita ikut sebagai pelaku bisnis secara Internasional namun kita tidak mempu menggunakan bahasa secara Internasioanal, maka kita akan mengalami kekalahan dalam berbisnis jika para pesaing kita lebih mahir dalam menggunakan bahasa Internasional. Dengan demikian, kemampuan berbahasa Internasional merupakan hal utama yang harus dikuasai oleh para pelaku bisnis global.
. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan berbahasa Internasional merupakan suatu hal yang sangat penting bagi para pelaku bisnis secara global. Para pelaku bisnis yang mahir menggunakan bahasa Internasional akan lebih bisa mengetahui perkembangan bisnis secara global jika dibandingkan dengan para pelaku bisnis yang tidak bisa menggunakan bahasa Internasioanl. Sebab dalam persaingan yang bisnis secara global, bahasa yang digunakan bukan hanya bahasa ibu tempat dimana kita berada. Dalam persaingan bisnis secara internasional tentu juga akan menggunakan bahasa Internasional. Jika kita ikut sebagai pelaku bisnis secara Internasional namun kita tidak mempu menggunakan bahasa secara Internasioanal, maka kita akan mengalami kekalahan dalam berbisnis jika para pesaing kita lebih mahir dalam menggunakan bahasa Internasional. Dengan demikian, kemampuan berbahasa Internasional merupakan hal utama yang harus dikuasai oleh para pelaku bisnis global.
Pendidikan dalam mempelajari bahasa
yang dipakai secara Internasional telah dilakukan oleh setiap negara. Tujuannya
tidak lain adalah agar tidak tertinggal dengan negara lain yang sebagian besar
penduduknya menjadikan bahasa Internasional sebagai bahasa sehari-hari.
Pembelajaran menggunakan bahasa Internasional sudah ditamankan sejak dini oleh
negara berbagai negara. Termasuk negara kita, Indonesia. Bahasa Inggris yang
merupakan salah satu bahasa yang di gunakan secara Internasional menjadi bahasa
yang paling banyak dipelajari oleh setiap negara yang ada didunia. Selain
bahasa Inggris, juga terdapat bahasa lain yang digunakan secara Internasional,
seperti bahasa Arab. Sudah banyak bahasa yang digunakan secara Internasional yang
diambil dari berbagai negara. Apalagi dalam berbisnis, untuk mengetahui
bagaimana perkembangan pasar secara global diperlukan banyak bahasa yang
digunakan oleh banyak negara. Tentu para
pelaku bisnis juga harus bisa menguasai semua banyak bahasa yang digunakan
tersebut. Disini kita bisa mengetahui seberapa pentingnya kemampuan berbahasa
Internasional oleh para pelaku bisnis global.
Dalam berbisnis secara global,
tentunya kita tidak hanya menguasai satu atau dua ilmu yang dibutuhkan. Kita
haruslah mampu menguasai lebih banyak ilmu dalam berbisnis secara global. Tentu
juga kita tidak boleh terpaku hanya pada salah satu pandangan mengenai cara
berbisnis secara global. Kita haruslah terbuka dengan dunia luar dan mau
menerima masukan-masukan yang sifatnya membangun. Terdapat banyak pandangan
yang haruslah kita terima dalam menjalankan bisnis secara global.
Monolingualisme adalah salah satu
tanda sebuah negara mengalami parokialisme. Parokialisme adalah menilai dunia
hanya dengan penglihatan dan perspektifnya sendiri.[2] Orang
yang berpandangan parokialisme tidak mau mengerti dengan orang lain yang
mempunyai pandangan dan cara yang berbeda dengan dirinya. Mereka mempunyai
prinsip “yang ada pada kami lebih baik dari yang ada pada mereka”. Mereka
terkesan kaku dan tidak mau mngerti dengan kemampuan orang lain yang tidak bisa
seperi mereka. Namun, bagi para pelaku bisnis tidak perlu kawatir dengan adanya
pandangan ini, masih ada tiga pandangan yang lain untuk menjalankan bisnis
anda.
Pertama, pandangan etnosentris,
adalah keyakinan parokialisme bahwa pendekatan dan praktik kerja terbaik adalah
yang dimiliki negara asal atau sendiri (home
ciuntry/negara dimana kantor-kantor utama milik perusahaan berada).[3]
Para manajer yang mempunyai pandangan etnosentris berpendapat bahwa para
pekerja yang berasal dari negaranya lebih baik dan lebih kompeten dalam
melakukan pekerjaannya jika dibandingkan dengan para pekerja dari negara lain.
Mereka tidak mau menaruh kepercayaan penting pada para pekerja yang berasal
dari negara lain.
Kedua, pandangan polisentris, memandang
bahwa para karyawan dinegara tuan rumah atau host country (negara lain
dimana organisasi menjalankan bisnis).[4]
Cara pandang ini memang agak terbuka dengan mempersilahkan para pekerja dari
negera dimana tempat perusahaan beroprasi untuk menjadi orang kepercayaan.
Mereka berkeyakinan bahwa para pekerja tuan rumah lebih memahami situasi dan
kondisi lingkungan dimana perusahaan berada.
Dan pandangan yang terakhir yang
mungkin dimiliki oleh para manajer sebuah organisasi adalah pandangan
geosentris, sebuah pandangan yang berorientasi-dunia yang berfokus untuk menggunakan
pendekatan dan orang terbaik dari seantero dunia.[5]
Para manajer yang berpandangan geosentris akan berfikir bahwa untuk menjadi
sebuah organisasi yang baik dan unggul, maka dalam merekrut pegawai haruslah
tidak pandang dari mana negara asal para pekerja tersebut atau apa golongan
pekerja tersebut, malainkan yang diutamakan adalah kualitasnya dalam bekerja.
Para pekeraja adalah orang-orang terbaik yang berasal dari seluruh seantero
dunia. Inilah tipe pendekatan yang dibutuhkan oleh para manajer yang
menginginkan perusahaannya sukses dalam lingkungan global.
B. Memahami
Lingkungan Global
Perdagangan secara global merupakan
salah satu bentuk nyata yang ada pada lingkungan global, yang kalau kita ingat
dalam pelajaran sejarah, bukanlah merupakan hal yang baru. Ada banyak negara
dan organisasi yang yang telah berdagang selama berabad-abad.[6]
Perdagangan secara global ini berlanjut hingga sekarang. Seperti yang telah
kitaketahui bersama, banyak para negara atau oraganisasi melakukan berbagai
persekutuan dan perjanjian untuk melakukan perdagangan secara global yang
dinegosiasikan sesuai dengan kewenangan World Trade Organization.
Kompetisi secara global dahulu
dipandang sebagai perseturuan antarnegara seperti AS versus Jepang, Prancis versus
Jerman, Meksiko versus Kanada, dan lain sebagainya.[7]
Namun untuk saat ini, kompetisis global di bentuk untuk membentuk perjanjian
persekutuan secara regional oleh negara-negara yang menginginkan kemajuan
kemudian membentuk perjanjian-perjanjian perdagangan regional seperti Uni Eropa
(European Union-UE), North American Free Trade Agreement (NAFTA), Association
of South Asia Nations (ASEAN), dan lain-lain. Pada pembahasan ini akan dibahas
satu-persatu mengenai kelompok dagang tersebut.
1) Uni
Eropa
Uni
Eropa atau Europa Union (UE) adalah persekutaun ekonomi dan politik dari 27
negara demokraris di Eropa. Tiga negara (Kroasia, Masedonia dan Turki) telah mendaftarkan diri untuk menjadi anggota
baru.[8]
Ketika 12 anggota awal membentuk EU di tahun 1992, motivasi utamanya adalah memantapkan
kembali posisi ekonomi wilayah ini terhadap Amerika Serikat dan Jepang.
2) North
American Free Trade Agreement dan Perjanjian-Perjanjian lainnya di Wilayah
Amerika Latin.
North
Amrican Free Trade Agreement (NAFTA) di sepakati oleh pemerintah negara
Meksiko, Kanada dan Amerika Serikat pada tahun 1992. Kelompok dagang ini
menjadi kelompok dagang yang menyebar luas ke seluruh dunia. Bahkan sampai
dengan tahun 2008 NAFTA masih menjadi blok dagang terbesar di dunia dalam
ukuran GDP gabungan dari para anggotanya.[9]
Seperti yang telah kita ketahui, anggota NAFTA menjadi negara dengan
perekonomian terbesar di dunia. Seperti Amerika Serikat yang hingga saat ini
masih menguasai di perdagangan dunia walau pada akhir-akhir ini mulai tergeser
oleh Cina, namun kita juga tidak bisa meniadakan keberadaan negara adidaya
tersebut. Negara –negara Amerika Latin lainnya akhirnya turut bergerak
membentuk blog perdagangan bebas untuk mengimbangi keberadaan NAFTA yang di
anggap mulai menghilangkan pengaruh bagi masing-masing negara yang menjadi dampak
dari adanya NAFTA tersebut.
3) Association
of South East Asian Nation (ASEN)
ASEAN
adalah aliansi perdagangan dari 10 negara di Asia Tenggara. Wilayah ASEAN meliputi 566 juta dan GDP gabungan
sebesar 737 miliar dolar. Keberadaan ASEAN saat ini semaikn di akui dengan
kemajuan perekonomiannya yang di yakini akan dapat mengimbangi atau bahkan
menyaingi pengaruh EU atau NAFTA di kancah perekonomian global.
4) Aliansi-aliansi
Dagang lain
Di negara-negara
yang ada di dunia ini, terdapat beberapa bagian yang juga membuat aliansi
dagang. Selain bagian pada negara-negara yang telah di bahas di awal, juga
masih terdapat aliansi dagang lain. Seperti halnya Uni Afrika (African Union-AU), South Asian
Asspciation For Regional Cooperation (SAARC) yang berada di wilayah Asia
Selatan dan lain sebagainya. Dalam melakukan perdagangan secara internasioanal,
kadang kala terjadi hal-hal atau perilaku yang tidak profesional. Terdapat
kemungkinan akan terjadinya sebuah kecurangan-kecurangan antara negara yang
terlibat dalam perdagangan global tersebut. Dengan demikian, kiranya perlu
untuk membentuk lembaga yang secara hukum ditaati oleh semua negara yang
terlibat dan kemudian bisa memberikan peraturan yang dapat menertibkan jalannya
proses perdagangan. Dalam hal ini, oraganisasi yang bernama World Trade
Organization (WTO) didirikan untuk mengatasi masalah tersebut. Tujuan WTO
adalah menolong negara-negara untuk menjalankan perdagangan melalui sebuah
sistem aturan dagang.[10]
Meskipun banyak mendapat protes dan kritikan, lembaga ini tetap berdiri hingga
saat ini.
C. Berbisnis
Secara Global
Dalam berbisnis, ada hal yang
menjadi tujuan dari semua organisasi atau perusahaan. Pada umumnya, semua
mengharapkan sebuah kesuksesan dalam menjalankan setiap bisnis yang dijalankan.
Bahkan, setelah berhasil mengembangkan bisnis di wilayah regional, akan tetap
melanjutkan bisnis tersebut ke kancah global. Inilah yang akan menjadi
pembahasan utama pada materi berbisnis secara global. Dalam menjalankan bisnis
secara global, terdapat beberapa pendekatan yang dapat di terima secara umum,
banyak memakai istilah yang di pakai diantaranya: multi nasioanal, multi domestik, global dan transnasional. Perusahaan multi nasional (multi national
corporation -MNC) adalah istilah umum yang mencakup semua tipe perusahaan
internasional yang menjalankan perusahaan di banyak negara. Kemudian perusahaan
multidomestik (multi domestic cooperation) adalah perusahaan internasional yang
menjalankan desentralisasi manajemen dan keputusan-keputusan lainnya ke negara
lokal. Dan perusahaan global (global company) adalah perusahaan internasional
yang mensentralisasikan manajemen dan keputusan keputusan di negara lokal. Sedangkan
perusahaan trannasional adalah perusahaan internasional yang mengeliminasi halangan
geografis artifisial.
Cara
Organisasi atau Perusahaan Go Internasional
Banyak yang dilakukan oleh sebuah
perusahaan dalam menjadikan perusahaannya go internasionaal. Dimuali dari
global sourcing, yaitu mengumpulkan bahan mentah ata tenaga kerja dari seantero
dunia berdasarka biaya termurah. Kemudian mengekspor produk lalu menjualnya ke
luar negeri. Selain mengekspor, kita juga perlu menginspor atau membeli produk buatan
luar negeri dan menjualnya di pasar domestik. Kemudian pemberian lesensi, yaitu
perjanjian dalam konteks sebuah organisasi memberikan hak atau menjual
produknya pada organisasi lain dengan memakai teknologi atau spesifikasi produk
tersebut. Tahap selanajutnya yaitu membentuk waralaba, yaitu perjanjian konteks
sebuah organisasi dalam memakai nama dan metode perasinya kepada organisasi
lain. Kemudian membentuk aliansi strategis, yaitu rekanan antar sebuah
organisasi dengan rekan luar negeri dalam konteks saling berbagi sumber daya
dan pengetahuan untuk mengembangkan produk baru atau membangun
fasilitas-fasilitas produksi. Selanjutnya yaitu joint venture, yaitu sebuah
tipe aliansi strategis dimana para rekan
membantu organisasi baru yang terpisah dan independen untuk tujuan bisnis
tertentu. Dan yang ketakhir adalah mendirikan cabang di luar negeri. Dengan
kita mendirikan cabang di luar negeri, otomatis perusahaan kita telah menjadi
perusahaan yang bertaraf internasioanl.
ijin copy yah kak buat bahan belajar
BalasHapusIzin copy bang
BalasHapus