Sabtu, 14 Februari 2015

Kedudukan Ijma’ sebagai Dalil Hukum


Oleh : Misbahul Munir[1]

Ijma’ menempati salah satu sumber hukum atau dalil hukum berada setelah al-Qur’an dan Sunnah. Demikian pendapat beberapa jumhur ulama’ mengenai ijma’. Hal ini menunjukkan bahawa betapa pentingnya kedudukan ijma’ sebagai hujjah atau dalil hukum. Dalil-dalil yang ada pada ijma’ wajib untuk di patuhi oleh semua umat muslim jika tidak ada dalam al-Qur’an dan Sunnah.
Jika tidak mematuhi hal yang di tetapkan dalam ijma’ maka sama saja berarti tidak mematuhi terhadap apa yang telah di tetapkan dalam al-Qur’an dan Sunnah.[2] Hal ini karena dalil yang ada pada ijma’ sumber hukumnya juga berasal dari al-Qur’an dan hadis juga. Jumhur ulama’ mengemukakan pandapat ini tentu dengan menggunakan dasar yang ada pada al-Qur’an dan Sunnah. Berikut beberapa dalil yang dijadikan dasar oleh para ulama’ kaitannya mengenai ijma’.
Surat an-Nisa (4):115

Urgensi Pendidikan Pola fikir


Sangat menarik bila berbicara mengenai pendidikan pola fikir. Setiap individu mempunyai pola berfikir yang berbeda. Dalam menghadapi suatu permasalahan, setiap individu mempunyai cara masing-masing dalam menyelesaikannya. Dan itu semua tidak lepas dari pola fikir yang mereka gunakan. Pendidikan pola fikir dirasa menjadi sangat penting bagi setiap individu, terlebih ketika dalam menghadapi suatu masalah. Cara berfikir inilah yang dapat membuat setiap individu menjadi mudah atau sulit dalam upaya penyelesaian maslah yang ia hadapi.