Masih teringat dengan jelas di
benak. Pak Drs. Harmen, kepala sekolah dulu waktu SMA, memberikan wejangan pada
saat upacara rutin setiap senin pagi. Beliau dengan nada pidato yang berapi-api
logat padang, bertanya pada kami semua selaku anak didiknya di SMA N 1 Lempuing
Jaya, OKI Sumatra Selatan. Beliau bertanya apakah yang paling cepat di dunia
ini?
Banyak jawaban muncul di benak,
ada yang bilang roket, pesawat jet, kilat cahaya dan lain sebagainya. Namun
beliau dengan senyum memberikan jawaban, yang paling cepat adalah “perubahan
waktu”. Dari satu detik menuju detik selanjutnya, dari menit ke menit, jam ke
jam, hari ke hari, tahun ke tahun. Semua bergulir begitu cepat, tanpa terasa
kita telah melewati itu semua.
Dan benar memang. Rasanya baru
kemarin awal tahun 2015, dan kini sudah sampai di penghujung 2015. Putaran
waktu memang begitu cepat, dan tanpa terasa satu tahun telah berlalau. Banyak
kenangan yang ada di dalamnya. Waktu ini berputar begitu cepat. Perpindahan
dari waktu ke waktu mengantarkan diri ini pada penuaan.
Semua ini menyadarkan saya
secara penuh ihwal begitu cepat hidup ini mengalami perubahan dan penuaan. Dan saya
tidak ingin semua berlalu begitu saja tanpa meninggalkan jejak-jejak kebaikan
yang inspiratif. Waktu yang Allah berikan secara “gratis” kepada saya, harus
bisa dimanfaatkan sebaik mungkin. Dan perjalanan sepanjang 2015 telah banyak
membuktikan kalau diri ini memang sudah berusaha untuk tidak menyia-nyiakan
waktu. Banyak hal yang telah terjadi, semua saya lakukan dengan niatan dan
tujuan yang baik. Setidaknya, jika kelak dimintai pertanggungjawaban tentang waktu,
saya sudah berusaha untuk menjawabnya mulai saat ini. Walau entah benar atau
salah jawaban tersebut. Semoga catatan ini kelak mampu menjadi saksi.
Gejolak perjalanan hidup yang
saya lalui sepanjang 2015 menyadarkan saya secara penuh akan pertanggungjawaban
terhadap waktu. Banyak hal yang ingin saya capai sepanjang 2015. Namun apalah
hendak dikata? Saya menyadari akan keseimbangan diri yang masih labil. Saya
masih belum bisa menjaga keseimbangan diri sehingga masih belum bisa istiqomah dalam mencapai semua keinginan
yang saya citakan.
Dulu, awal 2015, saya ingin
fokus untuk belajar menulis dan memperdalam bahasa Inggris (meningkatkan skor TOEFL). Hingga saya memutuskan untuk
mengurangi intensitas kegiatan organisasi. Saya sengaja tak begitu aktif di
beberapa organisasi kampus yang saya ikuti. Namun, menjaga keistiqomahan ternyata susah, tak semudah yang selama ini saya
angankan, yang pada akhirnya menyeret saya menuju tepi aliran perjalanan hidup yang
mengalir begitu saja. Walau semua keinginan belum bisa terwujud, setidaknya
diri ini sudah pernah berjuang, melawan arus rasa malas dan kenistaan nafsu. Walhasil,
walau belajar bahasa Inggris masih terbengkalai, namun alhamdulillah, untuk menulis, saya sudah bisa memaksakan diri untuk
istiqomah setiap hari menulis walau
dengan tertatih. Hingga saat. Semoga bisa berlanjut sampai nanti, entah kapan,
mungkin hingga saya memang sudah tidak bisa menulis lagi.
Saya aktif menulis mulai
pertengahan 2015, awal Juni tepatnya. Dan itu pun ada waktu selama satu bulan
penuh, yakni pada bulan agustus saya tidak menulis sama sekali karena sedang
kursus bahasa Inggris di Pare Kediri. Walau hanya setengah tahun kurang, alhamdilillah telah banyak tulisan yang
masuk di beberapa media cetak dan online. Baik media nasional, lokal dan
kampus. Yang terlacak ada 62 tulisan. Itu yang terlacak, dan saya yakin ada
beberapa tulisan yang tak terlacak. Artinya jumlahnya lebih dari itu.
Adapun beberapa media yang
pernah memuat tulisan yang saya kirim adalah Suara
Karya (Koran
Nasional), Kedaulatan Rakyat, Harian Jogja, Lampung Post, Bali Post,
Galamedia Bandung, Serembi Indonesia Aceh, Koran Madura, Koran Yogya, Tribun
Sumsel Palembang, Malang post, Harian Bisnis Medan, Satelit Post Purwokerto,
Belitung Post, Swaranews Surabaya, Harian Bhirawa Surabaya, Maluku post dan
Fajar Sumatra Lampung.
Selain itu, pada awal Desember 2015
saya juga mengikuti lomba essai nasional yang diselenggarakan oleh KOPMA UIN
Raden Fatah Palembang yang bertemakan tentang masyarakat ekonomi ASEAN (MEA).
Dan alhamdulillah, dalam perlombaan
tersebut, tulisan saya dinyatakan sebagai tulisan terbaik ke-tiga.
Pada tahun 2015 juga saya sedang proses
menerbitkan buku. Yakni buku ontologi-kumpulan tulisan yang pernah dimuat di
media masa bersama teman-teman yang tergabung dalam Forum Penulis Mudan Jogja
(FPMJ). Rencananya buku tersebut berjudul ‘Revolusi Pemikiran Kaum Muda’.
Sebenarnya sudah akan diterbitkan pada akhir 2015. Namun ada beberapa revisi
dari pihak percetakan yang pada akhirnya ditunda penerbitannya. Semoga bisa
cepat terbit dan mampu memberikan manfaat, baik bagi pembaca maupun penulisnya.
Dengan senyum optimisme yang tinggi,
saya berusaha untuk konsisten setiap hari menulis. Walau hanya sekedar tulisan catatan
harian yang ecek-ecek, yang penting setiap hari menulis. Belajar untuk bisa istiqomah. Sebab Al-istiqomatu Khoiru min alfi karomah!
Menulis bagi saya hal yang penting.
Sangat penting. Saya sadar betul bahwa keadaan saya hari ini pada nantinya akan
menuju pada ketiadaan. Maka apalah yang nanti bisa saya tinggalkan ketika wujud
ini telah sirna. Yang saya inginkan tentu bagaimana saya bisa abadi dalam
kebaikan. Menulis adalah cara terbaik yang saya pilih untuk mengabadikan diri.
Saya ingin dunia ini tau kalau saya
pernah ada. Saya, Misbahul Munir, anak kecil yang berasal dari daerah yang
sangat pelosok, desa Embacang kecamatan Mesuji Raya Kabupaten Ogan Komering
Ilir Sumatra Selatan, yang hidup dengan banyak mimpi-mimpi besar. Besar sekali.
Sangat besar dalam hidup. Dan saat ini masih terus berjalan untuk menggapi
mimpi-mimpi itu, walau kadang harus tersandung dan terjatuh, walau pedih, akan
terus berjalan. Bismillah!
Saya memang berasal dari daerah
terpincil. Sangat terpencil. Untuk menggambarkan keterpencilan daerah saya, di
lampiran saya tunjukkan foto jalan masuk menuju desa, yang sungguh sangat memprihatinkan!
 |
| Beginilah keadaan jalan masuk menuju desa saya, desa Embacang Kecamatan Mesuji Raya Kabupaten Ogan Komering Ilir Sumatra Selatan |
Dan akhirnya, inilah catatan perjalanan
sepanjang 2015. Rasanya catatan ini terlalu singkat menuliskan perjalanan
sepanjang satu tahun, sebab masih banyak kejadian-kejadian luar biasa lainnya
yang saya temui sepanjang 2015.
Catatan ini saya niatkan bukan untuk
narsis, apalagi pamer. Bukan! bukan itu tujuannya. Dengan catatan ini semoga
dapat memberikan kemanfaatan bagi siapa saja yang membacanya. Terkhusus, untuk teman-teman saya yang
ada di daerah sana. Mari terus berjuang mewujudkan mimpi-mimpi itu. Mimpi-mimpi
yang dulu pernah kita ukir bersama, kawan.
Saya sadar apa yang telah saya dapatkan
sepanjang 2015 belum sebanding dengan waktu yang saya miliki selama 2015. Saya
juga benar-benar menyadari bahwa, apa yang selama ini saya raih, ternyata masih
belum ada apa-apanya dibanding mereka, orang-orang yang sangat luar biasa,
terutama teman-teman di kampus, Jurusan Ekonomi Syariah Fakultas Ekonomi dan
Bisnis Islam UIN sunan Kalijaga Yogyakarta. Mereka selalu memberi inspirasi
pada diri ini. Saya juga tau kalau yang mempunyai mimpi besar bukan hanya saya,
tapi orang banyak. Biarlah saling berlomba untuk mencapainya. Karena sejatinya
perjalanan hidup adalah perjalanan dalam berfastabiqul
khoirot.
Terima kasih atas doa dan curahan kasih
sayang yang tiada henti untuk bapak ibuk di rumah. Terima kasih juga untuk para
guru, dosen di kampus, ustadz-ustadz di pondok, juga pak yai yang selalu
mewanti-wanti memberikan banyak pelajaran pada hidup. Untuk semua teman saya, teman
kampus, teman diorganisasi, teman di di pesantren, teman para penulis-penulis
senior yang selalu membimbing saya untuk terus belajar menulis. Terima kasih
banyak, untuk semua, telah menemani dan meningspirasi saya sepanjang 2015.
Catatan ini merupakan ungkapan rasa
syukur saya kepada Allah SWT yang telah memberikan waktu selama 2015. Saya
hanya ingin bersyukur terhadap apa yang telah diberikan untuk saya. Bagi saya,
menuliskan catatan hidup merupakan salah satu cara untuk bersyukur. Menghitung
dan menuliskan nikmat-Nya.
Selanjutnya, tahun 2016 merupakan
kesempatan saya untuk mengejar ketertinggalan diri dari orang-orang luar biasa
tersebut. Pada 2016 saya tetap ingin mengembangkan diri dalam kepenulisan dan
terus memperdalam bahasa Inggris—meningkatkan skor TOEFL. Tolong ingatkan saya jika saya lupa, kawan! Semoga kita
semua beri hidup yang manfaat berokah, selalu dalam perlindungan-Nya, serta
menjadi lebih baik di tahun 2016 dan tahun-tahun selanjutnya. Amiin Ya Rabbal ‘Alamin!
Biarkanlah
catatan ini abadi. Menjadi cermin diri. Kini, nanti, dan selamanya. Wallahu
A’lam Bisshawaf!
Yogyakarta,
21 Desember 2015
*Misbahul
Munir
Anak
Kecil dari daerah terpencil. Desa Embacang, Kecamatan Mesuji Raya, Kabupaten
Ogan Komering Ilir Sumatra Selatan. Saat ini sedang belajar untuk menggapi
mimpi-mimpinya.