"Tulisan ini saya buat bukan untuk mengungkapkan keburukan orang lain, namun saya niatkan untuk berbagi pengalaman kepada siapa saja yang membacanya. Mungkin dengan cerita ini pembaca dapat mengambil hikmah pada pengalam saya ini"
Tentang obrolanku dengan salah seorang
yang mungkin juga bisa dibilang temanku. Tapi aku juga tidak terlalu mengenalnya.
Aku mengenalnya hanya sebatas mengetahui nama dan tempat dimana ia tinggal
saja. Aku bertemu dengan dia hanya kalau berada di tempat beribadatan saja. Aku
dengan dia memang agak beda paham walaupun satu keyakinan. Aku juga tidak tau
mengapa bisa demikian. Memang aku sering terlibat dalam perdebatan dengan dia,
mulai dari hal-hal yang sepele sampai yang kayaknnya memang penting, dia memang
kelompok yang kolot menurutku
.
.
Dia selalu mengagung-agungkan pemahaman
yang dia anut pada saat ini, semua yang keluar dari mulutnya tentang
golongannya itu adalah ha-hal yang baik semua. Nyaris tidak ada yang tidak
baik. Mulai dari usaha dakwahnya, terus disambung dengan bagaimana kebaikan dan
kehebatan kelompoknya itu dalam mendakwahkan ajaran Islam sampai kepada negara
pusat dimana kelompoknya itu berasal, yang semua itu adalah baik baik semua.
Dan dia malah tidak jarang menghina keadaan umat beragama yang sama dengan dia
yang ada dinegerinya saat ini, baik secara langsung maupun secara tidak
langsung.
Menurut hemat saya, kalau masalah
mengajarkan agama yang telah seseorang anut kepada sesama manusia adalah hak
dan kewajiban pada masing-masing individu seseorang. Tanpa harus dengan melalui
sikap yang terlalu fanatik dan merasa golongannyalah yang paling baik, yang
paling sempurna dan yang paling asli atau paling sunnah dan benar dalam
mengerjakan setiap segala sesuatu. Dan juga dengan tidak mengeluarkan atau
menceritakan kejelekan golongan yang lain yang dilakukan oleh pengikutnya.
Dan anehnya yang dia ceritakan tentang
golongan yang lain adalah kejelekan-kejelekan melulu dan kalau tentang
golongannya semuanya yang baik baik melulu. Mungkin memang begini sikap
seseorang yang terlalu fanatik dengan kelompoknya, sehingga seolah hanya
kelompoknya yang ada dan menafikan kelompak yang lain.
Malam ini pembicaraanku tidak banyak
dengan dia, karna aku juga tidak mau terlalu banyak berdebat dengannya. Ah
hanya membuang banyak energi secara sia-sia saja, itu hal yang tidak akan
selesai jika dilayani. Karna dia akan menggunakan segala cara untuk melakukan
pembelaan terhadap golongannya. Tanpa mempertimbangkan apakah itu baik tau
tidak, benar atau salah.
Poin yang membuatku tersinggung adalah
ketika dia membicarakan tentang pendidikan. Tepatnya mengenai kuliah dan
belajar dipesantren. Dia bilang baut apa kuliah dan mondok, hanya menghabiskan
banyak uang dan tidak akan dapat apa-apa. Dan ada tambahannya juga dalam
perkataannya yang mengandung makna kalau orang kuliah adalah anak yang tidak
benar, nakal dan sepadannya. Capek-capek dikuliahkan dan dipondokkan
pulang-pulang menjadi garong (maling). Aku tersinggung dalam diamku, karna
dalam pembicaraan yang melibatkan banyak orang itu hanya saya satu-satunya yang
saat itu masih kuliah dan juga belajar di pesantren (mondok).
Namun
aku hanya diam dan tidak terlalu banyak menanggapi walaupun sebenarnya hatiku
juga tersinggung dengan amat sangat dengan kata-katnya barusan. Seolah-olah
usaha yang sedang saya tempuh saat ini adalah hal yang sia-sia menurut dia.
Seolah-olah aku dan kebanyakan orang yang belajar selama ini dipesantren adalah
anak-anak yang tidak sungguh-sungguh dan bahkan mungkin anak yang tidak benar
(anak yang nakal).
“Hei
kamu itu siapa bisa mengatakan seseorang begitu seenaknya tanpa memikirkan
apakah hal itu akan menyinggung yang lain atau tidak” hardik ku dalam diam.
Memang kamu tuhan bisa memastika secara langsung mengenai hal yang sedang aku
tempuh dan aku upayakan selama ini, teriakku dalam hati yang sedang panas. Ah
sudahlah! sabar saja, terserah dia mau bilang apa. Yang penting aku sekarang
belajar dengan sungguh, dengan niat lillahita’ala, tidak ada niatan yang
lain. Masalah yang lain biar Allah yang
Maha segalanya yang mengatur dan yang menentukan. Entahlah !
wallahu’a lam.
wallahu’a lam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar