Minggu, 04 Januari 2015

Perbincangan Malam itu


"Tulisan ini saya buat bukan untuk mengungkapkan keburukan orang lain, namun saya niatkan untuk berbagi pengalaman kepada siapa saja yang membacanya. Mungkin dengan cerita ini pembaca dapat mengambil hikmah pada pengalam saya ini"

Tentang obrolanku dengan salah seorang yang mungkin juga bisa dibilang temanku. Tapi aku juga tidak terlalu mengenalnya. Aku mengenalnya hanya sebatas mengetahui nama dan tempat dimana ia tinggal saja. Aku bertemu dengan dia hanya kalau berada di tempat beribadatan saja. Aku dengan dia memang agak beda paham walaupun satu keyakinan. Aku juga tidak tau mengapa bisa demikian. Memang aku sering terlibat dalam perdebatan dengan dia, mulai dari hal-hal yang sepele sampai yang kayaknnya memang penting, dia memang kelompok yang kolot menurutku
.

Dia selalu mengagung-agungkan pemahaman yang dia anut pada saat ini, semua yang keluar dari mulutnya tentang golongannya itu adalah ha-hal yang baik semua. Nyaris tidak ada yang tidak baik. Mulai dari usaha dakwahnya, terus disambung dengan bagaimana kebaikan dan kehebatan kelompoknya itu dalam mendakwahkan ajaran Islam sampai kepada negara pusat dimana kelompoknya itu berasal, yang semua itu adalah baik baik semua. Dan dia malah tidak jarang menghina keadaan umat beragama yang sama dengan dia yang ada dinegerinya saat ini, baik secara langsung maupun secara tidak langsung.

Menurut hemat saya, kalau masalah mengajarkan agama yang telah seseorang anut kepada sesama manusia adalah hak dan kewajiban pada masing-masing individu seseorang. Tanpa harus dengan melalui sikap yang terlalu fanatik dan merasa golongannyalah yang paling baik, yang paling sempurna dan yang paling asli atau paling sunnah dan benar dalam mengerjakan setiap segala sesuatu. Dan juga dengan tidak mengeluarkan atau menceritakan kejelekan golongan yang lain yang dilakukan oleh pengikutnya.

Dan anehnya yang dia ceritakan tentang golongan yang lain adalah kejelekan-kejelekan melulu dan kalau tentang golongannya semuanya yang baik baik melulu. Mungkin memang begini sikap seseorang yang terlalu fanatik dengan kelompoknya, sehingga seolah hanya kelompoknya yang ada dan menafikan kelompak yang lain.

Malam ini pembicaraanku tidak banyak dengan dia, karna aku juga tidak mau terlalu banyak berdebat dengannya. Ah hanya membuang banyak energi secara sia-sia saja, itu hal yang tidak akan selesai jika dilayani. Karna dia akan menggunakan segala cara untuk melakukan pembelaan terhadap golongannya. Tanpa mempertimbangkan apakah itu baik tau tidak, benar atau salah.

Poin yang membuatku tersinggung adalah ketika dia membicarakan tentang pendidikan. Tepatnya mengenai kuliah dan belajar dipesantren. Dia bilang baut apa kuliah dan mondok, hanya menghabiskan banyak uang dan tidak akan dapat apa-apa. Dan ada tambahannya juga dalam perkataannya yang mengandung makna kalau orang kuliah adalah anak yang tidak benar, nakal dan sepadannya. Capek-capek dikuliahkan dan dipondokkan pulang-pulang menjadi garong (maling). Aku tersinggung dalam diamku, karna dalam pembicaraan yang melibatkan banyak orang itu hanya saya satu-satunya yang saat itu masih kuliah dan juga belajar di pesantren (mondok).

Namun aku hanya diam dan tidak terlalu banyak menanggapi walaupun sebenarnya hatiku juga tersinggung dengan amat sangat dengan kata-katnya barusan. Seolah-olah usaha yang sedang saya tempuh saat ini adalah hal yang sia-sia menurut dia. Seolah-olah aku dan kebanyakan orang yang belajar selama ini dipesantren adalah anak-anak yang tidak sungguh-sungguh dan bahkan mungkin anak yang tidak benar (anak yang nakal).


“Hei kamu itu siapa bisa mengatakan seseorang begitu seenaknya tanpa memikirkan apakah hal itu akan menyinggung yang lain atau tidak” hardik ku dalam diam. Memang kamu tuhan bisa memastika secara langsung mengenai hal yang sedang aku tempuh dan aku upayakan selama ini, teriakku dalam hati yang sedang panas. Ah sudahlah! sabar saja, terserah dia mau bilang apa. Yang penting aku sekarang belajar dengan sungguh, dengan niat lillahita’ala, tidak ada niatan yang lain.  Masalah yang lain biar Allah yang Maha segalanya yang mengatur dan yang menentukan. Entahlah !
wallahu’a lam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar