Hidup ini tak obahnya laksana sebuah bahtera yang tengah berlayar di samudera luas. Bilamana cuaca baik dan laut dalam keadaan tenang, maka berlayar merupakan sesuatu yang sangat menyenangkan. Tetapi sebaliknya, bilamana cuaca jelek, angin bertiup kencang, badai mengamuk dan menerjang, maka berlayar merupakan sesuatu yang sangat menakutkan.
Begitulah gambaran hidup ini, terkadang menyenangkan terkadang pula
menyedihkan. Selama kita hidup di dunia ini, banyak sekali persoalan-persolanan yang kita alami dan rasakan. Semakin banyak berjalan, semakin banyak yang dilihat. Semakin panjang usia, semakin banyak yang dirasa.
Begitulah hidup ini, ibarat sebuah roda. Selama kita masih hidup, roda itu terus berputar. Kadang-kadang kita berada di atas, terkadang pula kita berada di bawah. Jika suatu waktu kita berada di atas atau pada posisi yang menyenangkan, maka hendaklah kita bersyukur kepada Allah SWT. dan janganlah sekali-kali meremehkan orang lain yang kebetulan berada di bawah. Sebaliknya, jika suatu waktu kita berada di bawah atau pada posisi yang tidak menyenangkan, maka hendaklah kita bersabar serta rela menerima takdir Allah SWT.
Karena kita hidup di dunia ini tidak ada yang kekal abadi. Semuanya silih berganti, seperti silih bergantinya siang dan malam. Tak ada kebahagiaan abadi, kecuali di Sorga. Dan tak ada kesengsaraan abadi, kecuali di neraka. Kita tidak boleh iri apalagi dengki kepada saudara-saudara kita yang kebetulan berada di atas. Namun, hendaklah kitaselalu berusaha semaksimal mungkin untuk bangkit mendaki menuju cita-cita yang kita inginkan. Selama kita masih mau berusaha, insyaAllah jalan selalu terbuka buat kita. Bukankah pepatah telah mengatakan, “Banyak jalan menuju Roma. Dimana ada kemauan, di situ ada jalan”. That’s right?
Allah. swt berfirman: “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu akan datang kemudahan. Sesungguhnya dibalik kesulitan itu terdapat kemudahan” (QS. An-Insyirah ayat 5 dan 6). Manusia diciptakan Allah SWT. agar ia banyak berbuat untuk kehidupannya. Dan berbuat untuk kehidupan diperlukan perencanaan yang matang serta citacita yang luhur. Tanpa itu semua, maka boleh jadi suatu kehidupan akan menjadi kacau, tak tentu arah, bak sebuah perahu yang berlayar tanpa kemudi, terombang ambing dihempas badai dan gelombang. Hidup ini laksana mengarungi lautan lepas tak bertepi. Suatu pantai yang akan kita tuju, sebagai refleksi dari citacita kita, nampaknya masih jauh dan belum kelihatan.
Apakah kita dapat menggapai tujuan yang kita cita citakan? ataukah mungkin kandas di tengah lautan, karam diterjang ombak dan gelombang, atau hilir mudik ke sana ke mari tak mencapai pulau harapan. Entahlah, yang jelas kita harus punya tujuan, kita harus punya cita-cita. Tercapai atau tidak, itu bukan urusan kita. Yang penting bagi kita adalah berusaha, sekali lagi. Berusaha! kendatipun memang kita cuma pandai berusaha, pandai berencana, namun yang menentukan berhasil atau tidaknya, itu urusan Allah. Yang jelas, dengan bekal cita-cita dan usaha yang keras, insyaAllah cepat atau lambat, pantai tujuan yang kita cita-citakan tersebut akan tercapai juga.
Dalam meraih suatu cita-cita tentunya diperlukan kemauan yang keras dan usaha yang gigih untuk mencapainya. Disamping itu diperlukan pula ketabahan, keuletan dan kesungguhan serta kesiapan berkorban baik tenaga, pikiran, perasaan, harta, tahta, uang dan sebagainya. Inilah prasyarat utama untuk mencapai keinginan yang dicita-citakan. Dalam hubungan ini, seorang Shufi pernah berkata :“Sesungguhnya Allah memiliki beberapa hamba. Jika hamba-hamba itu berkehendak melakukan sesuatu, maka Dia-pun (Allah) juga berkehendak demikian, atau menghendakinya”.
Perkataan seorang Shufi ini seolah memberikankan pengertian yang keliru, di mana kehendak Allah seolah-olah dipengaruhi oleh kehendak manusia. Tetapi bukan demikian yang dimaksudkan oleh seorang Shufi tersebut. Maksud dari perkataan ini tidak lain adalah membenarkan akan adanya hukum kausalitas, hukum sebab akibat, dimana Allah SWT. Menghargai akan niat, usaha atau ikhtiar manusia dalam mewujudkan segala yang diinginkannya.
Penghargaan Allah ini terungkap dalam firman-Nya : “Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum, sebelum mereka merubah keadaan diri mereka sendiri” (QS. Ar-Ra’du ayat 11). Kemudian diperkuat oleh sabda Rasulullah SAW. : “Sesungguhnya segala pekerjaan itu tergantung akan niatnya, dan hasil yang akan diperoleh seseorang itu, tergantung apa yang diniatkannya” (HR.Bukhari-Muslim).
Dari firman Allah dan sabda Rasulullah ini, mengharuskan kita agar segala yang kita inginkan dalam bentuk cita-cita, hendaknya disisipkan niat yang mantap, usaha yang gigih dan konsentrasi yang penuh, dalam upaya mewujudkannya. Marilah kita tanamkan dalam diri kita masing-masing semangat juang dan disiplin yang tinggi, yaitu kepatuhan yang didasari atas kesadaran diri yang mendalam untuk melakukan tindakan dan usaha dalam meraih cita-cita, dengan suatu keyakinan bahwa “hari esok harus lebih baik dari pada hari ini”.
“Dan hari esok (masa depan) itu lebih baik dan utama daripada hari ini (sekarang)”
(QS. Adh-Dhuha ayat 4). Itulah harapan, itulah keinginan dan itulah cita-cita. Kalau tidak karena adanya suatu harapan dan keinginan, maka mustahil seseorang mau berusaha untuk meraih cita-citanya. Dalam upaya meraih cita-cita ini, ada baiknya jika kita meneladani semangat juang yang dimiliki oleh para pahlawan, dimana umumnya mereka tidak mengenal putus asa di dalam memperjuangkan apa yang menjadi cita-citanya dan cita-cita bangsanya.
Para pahlawan di dalam memperjuangkan cita-citanya, tidak mengenal lelah dan tidak kenal kata menyerah apalagi putus asa, karena mereka mempunyai harapan yang besar bahwa suatu saat apa yang mereka cita citakan pasti akan berhasil, sehingga kehidupan mereka dan anak cucu mereka kelak akan lebih baik daripada kehidupan sekarang.
Orang yang berjiwa besar senantiasa bangun seketika ia terjatuh. Kejatuhan yang pertama dijadikannya bekal dan cermin untuk melangkah selanjutnya. Ingatlah nasehat Buya Hamka, “Janganlah takut menghadapi suatu kegagalan, karena dengan kegagalan itu kita akan dapat beroleh pengetahuan tentang segi-segi kelemahan atau kekuatan diri kita. Yang ditakuti adalah, gagal dua kali pada suatu hal yang serupa”.
Dengan demikian, marilah kita berdoa kepada Allah SWT. agar diberikan kekuatan dan ketabahan di dalam memperjuangkan segala cita-cita yang kita inginkan. Semoga Allah selalu menyertai kita dan memberikan pertolongan-Nya dalam upaya kita untuk meraih cita-cita. Ammiiin.(*)
Wallaahu a’lam!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar