Selasa, 02 September 2014

HALTE DEPAN KAMPUS



CERPEN!!
EPISODE 1.
HALTE DEPAN KAMPUS

Rian mengerti jika Ta terheran-heran.
ini bukan hari mereka jadian, kenapa pemuda itu membawanya ke halte depan kampusnya dulu? yang biasanya digunakan trans jogja untuk menaik turunkan penumpang yang berada dijalan marsda adi sucipro.
Ta sudah akan duduk, tetapi rian mengajak gadisnya berjalan sedikit lebih jauh. Suasana halte saat akhir pekan tidak terlalu ramai. Hanya satu dua mahasiswa tampak menunggu bus.

Rian menuntun Ta berdiri, persis ditempat empat tahun lalu gadis itu mengangguk hingga kuncir satunya bergoyang. Wajah Ta yang biasanya tenang, saat itu sedikit tersipu. Semburat samar di pipi yang kemudian menjelma tawa,
melihat betapa kocak kelakuan rian yang langsung melonjak berputar-putar kegirangan seperti anak kecil yang baru dibelikan mainan baru oleh orang tuanya, setelah mendengar jawaban Ta.
Pemandangan indah, kenangan yang mungkin tak dilupakan rian, detik dimana Ta meneriman cintanya.
Seandainya waktu bisa diulang keluh rian, dalah hati masih merutuki diri.

“rian ada apa?”
pertanyaan gadisnya, menambah keresahan yang coba dikemas lelaki itu dalam senyuman. Empat tahun bukanlah waktu yang sebentar. Banyak proses yang sudah mereka lewati, dan pernikahan keduanya sudah didepan mata.
Ta mengenalnya dengan baik, sebagai mana dia bisa menebak hanya dengan satu pandangan lekat, jika gadisnya sedang bermasalah.
Dan, suasana ganjil sekarang.!

Mendadak kata-kata seperti menguap keudara sebelum dia sempat memungutnya satu persatu, mencoba membentuk rangkaian kalimat yang akan terasa lebih baik jika disampaikan.
Namun, tidak ada cara yang lebih baik untuk menyampaikan kabar buruk seperti yang sedang dibawa.

“rian jangan bikin aku bingung,”
Lelaki itu mengumpulkan segenap keberanian dengan susah payah. Mencobah menantang pandangan gadis yang paling dicintainya.
“Ta tau kan dihalte ini,,,,”

Gadis itu mengangguk. Dia tidak mungkin lupa. Sosok jangkung disisinya itu termasuk populer dikampus. Terkenal tak acuh dan seakan-akan tidak membutuhkan siapapun. Cuek, sombong dan bahkan dulu sempat dijuluki sebagai manusia tanpa ekspresi oleh sebagian teman SMA-nya yang tampaknya risih melihat sifatnya. Dulu dia sempat bertanya-tanya, kenapa dirinya begitu sering menemukan rian, teman waktu SMA dan kemudian satu kampus, menunggu dihalte yang mana?
Apakah mereka tinggal satu arah?

oh ternyata tidak.
Dari info teman-teman akrab, tentu saja mereka mengenal rian. Gadis itu mendapat informasi alamat indekos lelaki tampan itu lumayan jauh dari kampus, mengendarai sepeda motor sekitar tiga puluh menit dari kampus. Di pondok pesantren Al-munawwir Krapyak Yogyakarta tepatnya.

Awalnya, ia tak ingin ambil pusing. Lagi pula mereka tak pernah bicara sebelumnya. Bahkan saat berpapasan disekolah dulupun, tidak pernah ada anggukan ramah atau senyum, apalagi kalimat yang meluncur dari sosok beku nan dingin itu.

Perubahan baru terjadi sejak mereka masuk kampus dan kebetulan di fakultas yang sama. Sosok tampan dengan tubuh jangkung yang mencolok itu seakan berada dimana-mana. Begitu sering bertemu, padahal dunia mereka tak benar-benar bersinggungan.

Rian ada di perpustakaan, halaman depan polik linik kampus, masjid kampus dan paling sering di halte tempat Ta menunggu bus trans jogja yang membawanya ke tempat ia tinggal. Meskipun, lalu terheran-heran setelah berkali-kali melihat pemuda itu ikut naik bus dan bahkan turun ditempat yang sama. Tampaknya mereka tinggal disatu daerah yang sama. Mungkin saja seperti itu!

Keanehan makin menjadi setelah ia memperhatikan cowok itu berjalan, biasanya dibelakang Ta. Lalu seperti dia juga ikut menunggu kereta di stasiun Tugu hingga datang dan baru pergi satelah Ta melompat kedalam.
Saking seringnya, gadis yang pada awalnya tak peduli, mulai merasa kehilangan ketika satu hari berlalu dan bayangan rian tak ia temukan.

“Ta?”
“ya?”
Keheningan pecah.
“disaat pertama kali rian bilang cinta sama Ta.” Gadis berwajah mungil didepannya mengangguk.
“dan itu sebabnya, rian ingin bilang sesuatu yang sangat penting dalam hidup rian.”
“hanya hidup kamu??” setengah menggoda kalimat itu meluncur, rian cepet-cepat meralatnya,
“juga dalam hidup Ta.”

Senja mulai turun. Sekitar halte maikn sepi. Satu dua pedagang asongan yang mangkal mulai memberesi dagangan. Perhatian Ta tercuri sesaat, ketika seorang mahasiswa berdiri tak jauh dari mereka terlihat mendengus kesal karena bus yang ditunggu belum juga datang. Kehabisan bensin mungkin.
Rian menarik nafas beberapa kali, berat dan tertahan. Tak ada keinginan untuk memberikan, kecuali kebahagiaan kepada gadisnya. Dan, kabar yang ditahannya sekarang.

“Ta harus janji!”
mata rian tiba-tiba merasa iba.
“ya?”

Dan jawaban Ta meluncur lembut. Baginya seolah tak perlu berlama-lama mencerna permintaan rian sebab dia tau laki-laki itu selalu memperlakukannya dengan baik.

“Ta harus percaya, Cinta rian Cuma buat Ta. Harus percaya hidup rian juga Cuma buat Ta”
Rian menghujaninya dengan kalimat-kalimat romantis. Agak lebih banyak dari biasanya.
Nada bicara lelaki itu selanjutnya mulai terdengar berbeda, kelihatan mengalami tekanan.

“Ta harus percaya, Cuma Ta perempuan satu-satunya dalam hidup rian.tapi….”
Oh, apakah rian berubah fikiran tentang rencana pernikahan mereka yang hanya sebulan lagi?
Semua persiapan sudah dilakukan jauh-jauh hari. Gedung sudah di-booking, catering telah dipilih dan undangan baru beberapa hari lalu jadi dan telah siap disebar.

“kamu ingin membatalkan pernikahan??”
lelaki itu tergesa-gesa menggeleng, “bukan itu.”
“tapi, kamu memakai kata ‘tapi’, tadi…”
rian mengangguk.

“Cuma Ta dalam hidup rian”
mereka saling bertatapan.
“tapi, seperti kebanyakan orang bilang, manusia nggak pernah luput dari salah. Begitu juga aku.”
Oh, rasanya tak ada perempuan dimana pun sanggup melalui adegan seperti ini tanpa dilalui debar kekhawatiran.

Kalau rian tak ingin membatalkan pernikahan, lalu apa?
“rian minta maaf, sebab sudah melakukan hal yang paling rian benci, dan dibenci juga oleh semua orang yang sedang jatuh cinta. Rian sudah mengkhianati Ta.”

Gadisnya tertegun.
Benarkah rian berkhianat, atau ini semacam april mop dan lelaki itu sedang menguji hati gadisnya?
“maksud kamu, apa??”
“fitri boleh marah, boleh caci maki, boleh melakukan apapun, nggak apa-apa, tapi tolong,,,
Suara itu kian bernada putus asa.

“tolong banget jangan pergi dari kehidupan rian.”
Gadis bernama Ta terdiam.
Disisinya, tangan Ta terulur, ingin meraih jemari mungil gadisnya, tapi segera mengurungkan niatnya, seperti ada kekuatan lain yang tidak dia ketahui asalnya dari mana untuk mencegahnya.

Senja menjelma malam. Rian masih menundukkan wajah dalam, seperti menahan tangis.
Diantara deru besar trans jogja yang bergerak membelah malam, suara klakson, dan derit pintu bus yang terbuka dari satu perhentian keperhentian yang lain, begitulah kira-kira suasana malam di sekitar kampus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar