CERPEN!!
EPISODE 1.
HALTE DEPAN KAMPUS
Rian mengerti jika Ta terheran-heran.
ini bukan hari mereka jadian, kenapa pemuda itu membawanya ke halte depan kampusnya dulu? yang biasanya digunakan trans jogja untuk menaik turunkan penumpang yang berada dijalan marsda adi sucipro.
ini bukan hari mereka jadian, kenapa pemuda itu membawanya ke halte depan kampusnya dulu? yang biasanya digunakan trans jogja untuk menaik turunkan penumpang yang berada dijalan marsda adi sucipro.
Ta sudah akan duduk, tetapi rian mengajak gadisnya
berjalan sedikit lebih jauh. Suasana halte saat akhir pekan tidak terlalu
ramai. Hanya satu dua mahasiswa tampak menunggu bus.
Rian menuntun Ta berdiri, persis ditempat empat
tahun lalu gadis itu mengangguk hingga kuncir satunya bergoyang. Wajah Ta yang
biasanya tenang, saat itu sedikit tersipu. Semburat samar di pipi yang kemudian
menjelma tawa,
melihat betapa kocak kelakuan rian yang langsung melonjak berputar-putar kegirangan seperti anak kecil yang baru dibelikan mainan baru oleh orang tuanya, setelah mendengar jawaban Ta.
melihat betapa kocak kelakuan rian yang langsung melonjak berputar-putar kegirangan seperti anak kecil yang baru dibelikan mainan baru oleh orang tuanya, setelah mendengar jawaban Ta.
Pemandangan indah, kenangan yang mungkin tak dilupakan
rian, detik dimana Ta meneriman cintanya.
Seandainya
waktu bisa diulang keluh rian, dalah hati masih merutuki diri.
“rian ada apa?”
pertanyaan gadisnya, menambah keresahan yang coba dikemas lelaki itu dalam senyuman. Empat tahun bukanlah waktu yang sebentar. Banyak proses yang sudah mereka lewati, dan pernikahan keduanya sudah didepan mata.
pertanyaan gadisnya, menambah keresahan yang coba dikemas lelaki itu dalam senyuman. Empat tahun bukanlah waktu yang sebentar. Banyak proses yang sudah mereka lewati, dan pernikahan keduanya sudah didepan mata.
Ta mengenalnya dengan baik, sebagai mana dia bisa
menebak hanya dengan satu pandangan lekat, jika gadisnya sedang bermasalah.
Dan, suasana ganjil sekarang.!
Mendadak kata-kata seperti menguap keudara sebelum
dia sempat memungutnya satu persatu, mencoba membentuk rangkaian kalimat yang
akan terasa lebih baik jika disampaikan.
Namun, tidak ada cara yang lebih baik untuk
menyampaikan kabar buruk seperti yang sedang dibawa.
“rian jangan bikin aku bingung,”
Lelaki itu mengumpulkan segenap keberanian dengan
susah payah. Mencobah menantang pandangan gadis yang paling dicintainya.
“Ta tau kan dihalte ini,,,,”
Gadis itu mengangguk. Dia tidak mungkin lupa. Sosok
jangkung disisinya itu termasuk populer dikampus. Terkenal tak acuh dan
seakan-akan tidak membutuhkan siapapun. Cuek, sombong dan bahkan dulu sempat
dijuluki sebagai manusia tanpa ekspresi oleh sebagian teman SMA-nya yang
tampaknya risih melihat sifatnya. Dulu dia sempat bertanya-tanya, kenapa dirinya
begitu sering menemukan rian, teman waktu SMA dan kemudian satu kampus,
menunggu dihalte yang mana?
Apakah mereka tinggal satu arah?
oh ternyata tidak.
Dari info teman-teman akrab, tentu saja mereka
mengenal rian. Gadis itu mendapat informasi alamat indekos lelaki tampan itu
lumayan jauh dari kampus, mengendarai sepeda motor sekitar tiga puluh menit dari
kampus. Di pondok pesantren Al-munawwir Krapyak Yogyakarta tepatnya.
Awalnya, ia tak ingin ambil pusing. Lagi pula mereka
tak pernah bicara sebelumnya. Bahkan saat berpapasan disekolah dulupun, tidak
pernah ada anggukan ramah atau senyum, apalagi kalimat yang meluncur dari sosok
beku nan dingin itu.
Perubahan baru terjadi sejak mereka masuk kampus dan
kebetulan di fakultas yang sama. Sosok tampan dengan tubuh jangkung yang
mencolok itu seakan berada dimana-mana. Begitu sering bertemu, padahal dunia
mereka tak benar-benar bersinggungan.
Rian ada di perpustakaan, halaman depan polik linik
kampus, masjid kampus dan paling sering di halte tempat Ta menunggu bus trans
jogja yang membawanya ke tempat ia tinggal. Meskipun, lalu terheran-heran
setelah berkali-kali melihat pemuda itu ikut naik bus dan bahkan turun ditempat
yang sama. Tampaknya mereka tinggal disatu daerah yang sama. Mungkin saja
seperti itu!
Keanehan makin menjadi setelah ia memperhatikan
cowok itu berjalan, biasanya dibelakang Ta. Lalu seperti dia juga ikut menunggu
kereta di stasiun Tugu hingga datang dan baru pergi satelah Ta melompat
kedalam.
Saking seringnya, gadis yang pada awalnya tak
peduli, mulai merasa kehilangan ketika satu hari berlalu dan bayangan rian tak
ia temukan.
“Ta?”
“ya?”
“ya?”
Keheningan pecah.
“disaat pertama kali rian bilang cinta sama Ta.” Gadis berwajah mungil didepannya mengangguk.
“dan itu sebabnya, rian ingin bilang sesuatu yang sangat penting dalam hidup rian.”
“hanya hidup kamu??” setengah menggoda kalimat itu meluncur, rian cepet-cepat meralatnya,
“juga dalam hidup Ta.”
“disaat pertama kali rian bilang cinta sama Ta.” Gadis berwajah mungil didepannya mengangguk.
“dan itu sebabnya, rian ingin bilang sesuatu yang sangat penting dalam hidup rian.”
“hanya hidup kamu??” setengah menggoda kalimat itu meluncur, rian cepet-cepat meralatnya,
“juga dalam hidup Ta.”
Senja mulai turun. Sekitar halte maikn sepi. Satu
dua pedagang asongan yang mangkal mulai memberesi dagangan. Perhatian Ta
tercuri sesaat, ketika seorang mahasiswa berdiri tak jauh dari mereka terlihat
mendengus kesal karena bus yang ditunggu belum juga datang. Kehabisan bensin
mungkin.
Rian menarik nafas beberapa kali, berat dan
tertahan. Tak ada keinginan untuk memberikan, kecuali kebahagiaan kepada
gadisnya. Dan, kabar yang ditahannya sekarang.
“Ta harus janji!”
mata rian tiba-tiba merasa iba.
“ya?”
mata rian tiba-tiba merasa iba.
“ya?”
Dan jawaban Ta meluncur lembut. Baginya seolah tak
perlu berlama-lama mencerna permintaan rian sebab dia tau laki-laki itu selalu
memperlakukannya dengan baik.
“Ta harus percaya, Cinta rian Cuma buat Ta. Harus
percaya hidup rian juga Cuma buat Ta”
Rian menghujaninya dengan kalimat-kalimat romantis.
Agak lebih banyak dari biasanya.
Nada bicara lelaki itu selanjutnya mulai terdengar
berbeda, kelihatan mengalami tekanan.
“Ta harus percaya, Cuma Ta perempuan satu-satunya
dalam hidup rian.tapi….”
Oh,
apakah rian berubah fikiran tentang rencana pernikahan mereka yang hanya
sebulan lagi?
Semua persiapan sudah dilakukan jauh-jauh hari.
Gedung sudah di-booking, catering telah
dipilih dan undangan baru beberapa hari lalu jadi dan telah siap disebar.
“kamu ingin membatalkan pernikahan??”
lelaki itu tergesa-gesa menggeleng, “bukan itu.”
“tapi, kamu memakai kata ‘tapi’, tadi…”
rian mengangguk.
lelaki itu tergesa-gesa menggeleng, “bukan itu.”
“tapi, kamu memakai kata ‘tapi’, tadi…”
rian mengangguk.
“Cuma Ta dalam hidup rian”
mereka saling bertatapan.
“tapi, seperti kebanyakan orang bilang, manusia
nggak pernah luput dari salah. Begitu juga aku.”
Oh, rasanya tak ada perempuan dimana pun sanggup
melalui adegan seperti ini tanpa dilalui debar kekhawatiran.
Kalau
rian tak ingin membatalkan pernikahan, lalu apa?
“rian minta maaf, sebab sudah melakukan hal yang
paling rian benci, dan dibenci juga oleh semua orang yang sedang jatuh cinta.
Rian sudah mengkhianati Ta.”
Gadisnya tertegun.
Benarkah
rian berkhianat, atau ini semacam april mop dan lelaki itu sedang menguji hati
gadisnya?
“maksud kamu, apa??”
“fitri boleh marah, boleh caci maki, boleh melakukan apapun, nggak apa-apa, tapi tolong,,,”
“fitri boleh marah, boleh caci maki, boleh melakukan apapun, nggak apa-apa, tapi tolong,,,”
Suara itu kian bernada putus asa.
“tolong banget jangan pergi dari kehidupan rian.”
Gadis bernama Ta terdiam.
Disisinya, tangan Ta terulur, ingin meraih jemari
mungil gadisnya, tapi segera mengurungkan niatnya, seperti ada kekuatan lain
yang tidak dia ketahui asalnya dari mana untuk mencegahnya.
Senja menjelma malam. Rian masih menundukkan wajah
dalam, seperti menahan tangis.
Diantara deru besar trans jogja yang bergerak
membelah malam, suara klakson, dan derit pintu bus yang terbuka dari satu perhentian
keperhentian yang lain, begitulah kira-kira suasana malam di sekitar kampus UIN
Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar