Rabu, 24 September 2014

Praktik Manajemen di Lingkunan Global

Praktik Manajemen di Lingkungan Global
Oleh: Misbahul Munir[1]

A.  Memahami Perspektif Global
Di era globalisasi, tidak sedikit orang yang sudah mampu menggunakan lebih dari satu atau dua bahasa yang ada di dunia. Menguasai bahasa Inggris yang menjadi salah satu bahasa yang di pakai secara Internasional merupakan suatu tuntutan bagi pelaku bisnis global. Bahkan, kebanyakan penduduk di negara maju seperti Singapura, bahasa Inggris digunakan sebagai bahasa sehari-hari setelah bahasa ibu di Negara mereka
. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan berbahasa Internasional merupakan suatu hal yang sangat penting bagi para pelaku bisnis secara global. Para pelaku bisnis yang mahir menggunakan bahasa Internasional akan lebih bisa mengetahui perkembangan bisnis secara global jika dibandingkan dengan para pelaku bisnis yang tidak bisa menggunakan bahasa Internasioanl. Sebab dalam persaingan yang bisnis secara global, bahasa yang digunakan bukan hanya bahasa ibu tempat dimana kita berada. Dalam persaingan bisnis secara internasional tentu juga akan menggunakan bahasa Internasional. Jika kita ikut sebagai pelaku bisnis secara Internasional namun kita tidak mempu menggunakan bahasa secara Internasioanal, maka kita akan mengalami kekalahan dalam berbisnis jika para pesaing kita lebih mahir dalam menggunakan bahasa Internasional. Dengan demikian, kemampuan berbahasa Internasional merupakan hal utama yang harus dikuasai oleh para pelaku bisnis global.
Pendidikan dalam mempelajari bahasa yang dipakai secara Internasional telah dilakukan oleh setiap negara. Tujuannya tidak lain adalah agar tidak tertinggal dengan negara lain yang sebagian besar penduduknya menjadikan bahasa Internasional sebagai bahasa sehari-hari. Pembelajaran menggunakan bahasa Internasional sudah ditamankan sejak dini oleh negara berbagai negara. Termasuk negara kita, Indonesia. Bahasa Inggris yang merupakan salah satu bahasa yang di gunakan secara Internasional menjadi bahasa yang paling banyak dipelajari oleh setiap negara yang ada didunia. Selain bahasa Inggris, juga terdapat bahasa lain yang digunakan secara Internasional, seperti bahasa Arab. Sudah banyak bahasa yang digunakan secara Internasional yang diambil dari berbagai negara. Apalagi dalam berbisnis, untuk mengetahui bagaimana perkembangan pasar secara global diperlukan banyak bahasa yang digunakan oleh banyak negara. Tentu  para pelaku bisnis juga harus bisa menguasai semua banyak bahasa yang digunakan tersebut. Disini kita bisa mengetahui seberapa pentingnya kemampuan berbahasa Internasional oleh para pelaku bisnis global.
Dalam berbisnis secara global, tentunya kita tidak hanya menguasai satu atau dua ilmu yang dibutuhkan. Kita haruslah mampu menguasai lebih banyak ilmu dalam berbisnis secara global. Tentu juga kita tidak boleh terpaku hanya pada salah satu pandangan mengenai cara berbisnis secara global. Kita haruslah terbuka dengan dunia luar dan mau menerima masukan-masukan yang sifatnya membangun. Terdapat banyak pandangan yang haruslah kita terima dalam menjalankan bisnis secara global.
Monolingualisme adalah salah satu tanda sebuah negara mengalami parokialisme. Parokialisme adalah menilai dunia hanya dengan penglihatan dan perspektifnya sendiri.[2] Orang yang berpandangan parokialisme tidak mau mengerti dengan orang lain yang mempunyai pandangan dan cara yang berbeda dengan dirinya. Mereka mempunyai prinsip “yang ada pada kami lebih baik dari yang ada pada mereka”. Mereka terkesan kaku dan tidak mau mngerti dengan kemampuan orang lain yang tidak bisa seperi mereka. Namun, bagi para pelaku bisnis tidak perlu kawatir dengan adanya pandangan ini, masih ada tiga pandangan yang lain untuk menjalankan bisnis anda.
Pertama, pandangan etnosentris, adalah keyakinan parokialisme bahwa pendekatan dan praktik kerja terbaik adalah yang dimiliki negara asal atau sendiri (home ciuntry/negara dimana kantor-kantor utama milik perusahaan berada).[3] Para manajer yang mempunyai pandangan etnosentris berpendapat bahwa para pekerja yang berasal dari negaranya lebih baik dan lebih kompeten dalam melakukan pekerjaannya jika dibandingkan dengan para pekerja dari negara lain. Mereka tidak mau menaruh kepercayaan penting pada para pekerja yang berasal dari negara lain.
Kedua, pandangan polisentris, memandang bahwa para karyawan dinegara tuan rumah atau host country (negara lain dimana organisasi menjalankan bisnis).[4] Cara pandang ini memang agak terbuka dengan mempersilahkan para pekerja dari negera dimana tempat perusahaan beroprasi untuk menjadi orang kepercayaan. Mereka berkeyakinan bahwa para pekerja tuan rumah lebih memahami situasi dan kondisi lingkungan dimana perusahaan berada.
Dan pandangan yang terakhir yang mungkin dimiliki oleh para manajer sebuah organisasi adalah pandangan geosentris, sebuah pandangan yang berorientasi-dunia yang berfokus untuk menggunakan pendekatan dan orang terbaik dari seantero dunia.[5] Para manajer yang berpandangan geosentris akan berfikir bahwa untuk menjadi sebuah organisasi yang baik dan unggul, maka dalam merekrut pegawai haruslah tidak pandang dari mana negara asal para pekerja tersebut atau apa golongan pekerja tersebut, malainkan yang diutamakan adalah kualitasnya dalam bekerja. Para pekeraja adalah orang-orang terbaik yang berasal dari seluruh seantero dunia. Inilah tipe pendekatan yang dibutuhkan oleh para manajer yang menginginkan perusahaannya sukses dalam lingkungan global.




[1] Mahasiswa Jurusan Ekonomi Syari’ah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarya
[2] Stephen p. Robbins dan Mary Coulter, Manajemen, (Jakarta: Erlangga, 2010), halm. 99
[3] Ibid,. halm.100
[4] Ibid.
[5] Ibid.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar