Pemimpin Pilihan Rakyat Menurut para Tukang Kuli
Bangunan
Lempuing,
25 Agustus 2014
Pagi
tadi, saya sowan (bermain) ke pondok pesantren tempat saya belajar dahulu ketika
masih sekolah menengah di desa lubuk seberuk. Desa lubuk seberuk adalah desa
yang terletek di kecamatan lempuing jaya kabupaten ogan komering ilir provinsi
sumatera selatan. Setelah menemui pimpinan yayasan pesantren, saya mohon pamit
untuk pergi menemui para santri senior yang dulu seangkatan dengan saya. Para
santri senior yang saya temui ternyata sedang berkerja membantu para tukang
atau kuli bangunan membuat sebuah bangunan untuk sarana dan prasarana para
santri yang belajar di pesantren tersebut.
Di pesantren yang saya kunjungi ini memang sudah menjadi kebiasaan para santri senior membantu para tukang atau para kuli bangunan, bahkan sejak dahulu saya masih belajar di pesantren ini.
Di pesantren yang saya kunjungi ini memang sudah menjadi kebiasaan para santri senior membantu para tukang atau para kuli bangunan, bahkan sejak dahulu saya masih belajar di pesantren ini.
Setelah
bertemu dan menyalami para santri senior, saya sempatkan waktu saya sebentar
untuk sekedar ikut berkumpul dan berbincang-bincang dengan para santri senior
dan para tukang atau para kuli bangunan. Ternyata salah satu topik yang dibahas
dalam perbincangan mereka adalah tentang pemilihan umum presiden dan wakil presiden
yang diselenggarakan beberapa bulan yang lalu. Mereka mengemukakan alasan
mereka mengenai calon presiden yang mereka pilih dan secara tidak sengaja saya
ikut mendengarkan. Banyak alasan yang mereka kemukakan dalam acara diskusi
tanpa moderator yang diselenggarakan oleh kawanan tukang kuli bangunan ini.
Dari sekian banyak alasan yang mereka kemukakan, ada satu alasan yang menarik
perhatian saya untuk saya amati lebih lanjut. Alasan tersebut berasal dari
salah satu pak tukang yang sedang menata batu bata untuk dibuat tembok.
Pendapat
pak tukang tersebut mengenai pemimpin pilihan rakyat adalah pemimpin yang
sederhana, mau menyambangi rakyat dan tentunya bisa menjadi contoh sebagai
pemimpin yang baik. Pak tukang tersebut menjatuhkan pilihannya kepada pasangan
nomor urut dua, yaitu pasangan calon presiden joko widodo dan calon wakil
presiden jusuf kalla yang ia yakini mempunyai sifat seperti yang ia kemukakan
sebagai pemimpin pilihan rakyat. Seperti yang kita tahu dari pemberitaan media
masa bahwa calon presiden joko widodo yang saat ini sebagai presiden terpilih
mempunyai sifat yang sederhana dan mau bergabung dengan masyarakat tanpa
mengenal batas. Bahkan beliau sudah terkenal dengan istilah blusukan untuk
menyambangi rakyat. Beliau terjun secara langsung kelapangan untuk mengetahui secara
langsung bagaimana kondisi rakyat.
Masih
menurut pendapat pak tukang yang saya sebut diatas, berbeda dengan pasangan
yang satunya. Yaitu pasangan nomor urut satu, pasangan calon presiden prabowo
subianto dan calon wakil presiden hatta rajasa. Seperti yang kita tahu bahwa
pemilu presiden tahun ini hanya terdapat dua kandidat calon presiden, yaitu
nomor urut satu dan nomor urut dua. Menurut pak tukang yang saya sebut
diatas, calon presiden dari pasangan nomor
urut dua lebih pantas dan lebih baik untuk dijadikan contoh sebagai pemimpin
jika dibandingkan dengan pasangan nomor urut satu. Karena menurut pak tukang
tersebut, jika dilihat dari segi berkeluarga saja, calon presiden nomor urut
dua lebih bisa membangun keluarga yang baik dibandingkan dengan calon presiden
nomor urut satu. Seperti yang kita tahu bahwa calon presiden nomor urut satu,
prabowo subianto menjadi duda setelah bercerai dengan istrinya. Bahkan beliau dinyatakan
gagal dalam memimpin keluarganya sendiri dan bisa dikatakan calon presiden
nomor urut dua lebih sukses dalam memimpin keluarganya sendiri imbuh pak tukang
tadi. “bagaiman mungkin bisa memimpin negara dengan baik sedangkan memimpin
keluarga sendiripun masih belum bisa” kata pak tukang yang saya sebut diatas
mengenai calon presiden nomor urut satu. Begitulah pandangan pak tukang
mengenai seorang pemimpin rakyat. Pak tukang yang sebagai rakyat kecil memilih
pemimpin dengan cara yang sederhana. Tidak mengarah ke yang tinggi-tinggi, tapi
cukup dimulai dari hal yang sederhana dan hal-hal kecil. Penilaian pak tukang
tersebut tentunya berasal dari berbagai media komunikasi yang ada pada saat
ini. Benar atau tidaknya suatu penilaian terhadap suatu hal yang di nilai,
tentunya tergantung pada orang yang menilai. Penilaian seperti ini memang
bersifat subjektif. Tergantung pada orang yang menilai.
Tulisan
ini dibuat bukan untuk memihak kepada salah satu calon presiden, karena memang
sudah bukan waktunya. Masa-masa kempanye bagi masing-masing pasangan calon
presiden dan calon wakil presiden telah usai. Dan memang saya juga orang yang
tidak terlalu memperhatikan maslah politik secara mendalam. Cukup tau saja bagi
saya. Tulisan ini lebih mengarah pada bagaimana cara pandang para rakyat kecil
dalam memilih pemimpin. Walau tampak sederhana, tapi itu memang berasal dari
hati nurani rakyat itu sendiri. Tidak ada intimidasi atau bahkan pengaruh dari
pihak yang lain. Begitulah cara pandang masyarakat bawah, uwong cilik.
Sederhana, tidak muluk-muluk, namun dari hati nurani. Wallahu a’lam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar