Minggu, 14 September 2014

Pemimpin Pilihan Rakyat Menurut para Tukang Kuli Bangunan



Pemimpin Pilihan Rakyat Menurut para Tukang Kuli Bangunan

Lempuing, 25 Agustus 2014

Pagi tadi, saya sowan (bermain) ke pondok pesantren tempat saya belajar dahulu ketika masih sekolah menengah di desa lubuk seberuk. Desa lubuk seberuk adalah desa yang terletek di kecamatan lempuing jaya kabupaten ogan komering ilir provinsi sumatera selatan. Setelah menemui pimpinan yayasan pesantren, saya mohon pamit untuk pergi menemui para santri senior yang dulu seangkatan dengan saya. Para santri senior yang saya temui ternyata sedang berkerja membantu para tukang atau kuli bangunan membuat sebuah bangunan untuk sarana dan prasarana para santri yang belajar di pesantren tersebut.
Di pesantren yang saya kunjungi ini memang sudah menjadi kebiasaan para santri senior membantu para tukang atau para kuli bangunan, bahkan sejak dahulu saya masih belajar di pesantren ini.

Setelah bertemu dan menyalami para santri senior, saya sempatkan waktu saya sebentar untuk sekedar ikut berkumpul dan berbincang-bincang dengan para santri senior dan para tukang atau para kuli bangunan. Ternyata salah satu topik yang dibahas dalam perbincangan mereka adalah tentang pemilihan umum presiden dan wakil presiden yang diselenggarakan beberapa bulan yang lalu. Mereka mengemukakan alasan mereka mengenai calon presiden yang mereka pilih dan secara tidak sengaja saya ikut mendengarkan. Banyak alasan yang mereka kemukakan dalam acara diskusi tanpa moderator yang diselenggarakan oleh kawanan tukang kuli bangunan ini. Dari sekian banyak alasan yang mereka kemukakan, ada satu alasan yang menarik perhatian saya untuk saya amati lebih lanjut. Alasan tersebut berasal dari salah satu pak tukang yang sedang menata batu bata untuk dibuat tembok.

Pendapat pak tukang tersebut mengenai pemimpin pilihan rakyat adalah pemimpin yang sederhana, mau menyambangi rakyat dan tentunya bisa menjadi contoh sebagai pemimpin yang baik. Pak tukang tersebut menjatuhkan pilihannya kepada pasangan nomor urut dua, yaitu pasangan calon presiden joko widodo dan calon wakil presiden jusuf kalla yang ia yakini mempunyai sifat seperti yang ia kemukakan sebagai pemimpin pilihan rakyat. Seperti yang kita tahu dari pemberitaan media masa bahwa calon presiden joko widodo yang saat ini sebagai presiden terpilih mempunyai sifat yang sederhana dan mau bergabung dengan masyarakat tanpa mengenal batas. Bahkan beliau sudah terkenal dengan istilah blusukan untuk menyambangi rakyat. Beliau terjun secara langsung kelapangan untuk mengetahui secara langsung bagaimana kondisi rakyat.

Masih menurut pendapat pak tukang yang saya sebut diatas, berbeda dengan pasangan yang satunya. Yaitu pasangan nomor urut satu, pasangan calon presiden prabowo subianto dan calon wakil presiden hatta rajasa. Seperti yang kita tahu bahwa pemilu presiden tahun ini hanya terdapat dua kandidat calon presiden, yaitu nomor urut satu dan nomor urut dua. Menurut pak tukang yang saya sebut diatas,  calon presiden dari pasangan nomor urut dua lebih pantas dan lebih baik untuk dijadikan contoh sebagai pemimpin jika dibandingkan dengan pasangan nomor urut satu. Karena menurut pak tukang tersebut, jika dilihat dari segi berkeluarga saja, calon presiden nomor urut dua lebih bisa membangun keluarga yang baik dibandingkan dengan calon presiden nomor urut satu. Seperti yang kita tahu bahwa calon presiden nomor urut satu, prabowo subianto menjadi duda setelah bercerai dengan istrinya. Bahkan beliau dinyatakan gagal dalam memimpin keluarganya sendiri dan bisa dikatakan calon presiden nomor urut dua lebih sukses dalam memimpin keluarganya sendiri imbuh pak tukang tadi. “bagaiman mungkin bisa memimpin negara dengan baik sedangkan memimpin keluarga sendiripun masih belum bisa” kata pak tukang yang saya sebut diatas mengenai calon presiden nomor urut satu. Begitulah pandangan pak tukang mengenai seorang pemimpin rakyat. Pak tukang yang sebagai rakyat kecil memilih pemimpin dengan cara yang sederhana. Tidak mengarah ke yang tinggi-tinggi, tapi cukup dimulai dari hal yang sederhana dan hal-hal kecil. Penilaian pak tukang tersebut tentunya berasal dari berbagai media komunikasi yang ada pada saat ini. Benar atau tidaknya suatu penilaian terhadap suatu hal yang di nilai, tentunya tergantung pada orang yang menilai. Penilaian seperti ini memang bersifat subjektif. Tergantung pada orang yang menilai.

Tulisan ini dibuat bukan untuk memihak kepada salah satu calon presiden, karena memang sudah bukan waktunya. Masa-masa kempanye bagi masing-masing pasangan calon presiden dan calon wakil presiden telah usai. Dan memang saya juga orang yang tidak terlalu memperhatikan maslah politik secara mendalam. Cukup tau saja bagi saya. Tulisan ini lebih mengarah pada bagaimana cara pandang para rakyat kecil dalam memilih pemimpin. Walau tampak sederhana, tapi itu memang berasal dari hati nurani rakyat itu sendiri. Tidak ada intimidasi atau bahkan pengaruh dari pihak yang lain. Begitulah cara pandang masyarakat bawah, uwong cilik. Sederhana, tidak muluk-muluk, namun dari hati nurani. Wallahu a’lam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar